Malam hari menjelang subuh yang tenang di Kota Zhurong, di mana sebagian besar pedagang sudah beristirahat dan menutup lapaknya, terlihat beberapa penjaga kota hilir mudik memastikan keamanan di kota mereka.

Situasi di sekitar kota yang tenang terlihat berbeda dengan sebuah kamar di Paviliun Bulan Bintang. Suara rintihan seperti kesakitan terdengar sekilas dari luar ruangan. Suara rintihan tersebut akan lebih jelas terdengar bagi seorang kultivator yang memiliki pendengaran tajam.

Narendra yang saat itu sedang mengintai sekitar kota bersama Arkha dari salah satu bangunan dekat paviliun untuk mencari keberadaan Kanaya atau orang-orang berbahaya lainnya, langsung mengajak Arkha untuk menyelidiki ke arah suara yang didengarnya.

Narendra merasa cemas karena suara tersebut berada di lantai kamar tempat Lynx dan Leena berada. Setibanya di depan pintu, Narendra ingin mendobrak langsung untuk melihat apa yang terjadi, namun Arkha yang lebih peka dengan situasi segera menghentikannya dan menarik Narendra keluar paviliun dengan cepat sebelum mereka ketahuan.

"Arkha, kenapa kamu menarikku? Apa kamu tidak mengkhawatirkan kondisi kepala suku kita?" tanya Narendra dengan tatapan marah. Dia melihat perubahan wajah Arkha yang sulit diartikannya. Ekspresi yang belum pernah dilihatnya, wajahnya terlihat merah.

Narendra segera menyadari sesuatu dan bersiap siaga. "Arkha, kamu ternyata masih dalam pengaruh wanita itu? Kamu bekerja sama dengannya untuk mencelakakan Lynx?"

Arkha yang mendengar kata-kata Narendra menjadi terbengong diam.

"Anak ini, ternyata dia benar-benar bodoh, tidak mengetahui apa yang sedang terjadi," batin Arkha dengan rasa tidak percaya. Dia merasa kesulitan untuk memberikan penjelasan.

"Narendra... Kamu salah paham. Lynx dan Leena tidak terluka." Wajah Arkha semakin memerah.

"Kamu jangan membohongiku. Aku harus segera ke sana menyelamatkan mereka." Narendra bersiap untuk bergerak dengan cepat.

Arkha yang kaget dengan reaksi Narendra segera berteriak sebelum Narendra menghilang. Dia tidak akan mampu menghentikan Narendra jika Narendra sudah bergerak.

"Bercinta...!"

"Mereka sedang bermesraan, bodoh!" teriak Arkha dengan kesal. Dia merasa malu mengatakannya.

"A...apa?" Tubuh Narendra mendadak kaku tidak bisa bergerak. Dia segera teringat kembali dengan suara yang didengarnya barusan. Dia baru menyadari, meski suaranya seperti rintihan kesakitan, namun suara itu sangat mirip dengan suara yang sering didengarnya saat di Desa Surya. Suara para pasangan sedang memadu kasih. Suara yang didengarnya bukanlah rintihan kesakitan tetapi erangan kenikmatan.

Wajah Narendra langsung memerah. "Kenapa kamu baru mengatakannya? Hampir saja aku mempermalukan diriku sendiri. Aku tidak akan sanggup bertemu mereka jika hal itu sampai terjadi."

"Apa sih yang kalian ributkan?" Tiba-tiba terdengar suara Jelita di belakang mereka. Jelita mendatangi mereka bersama Kael.

"Jelita? Kamu kenapa ke sini? Kenapa belum beristirahat?" tanya Narendra dengan nada masih terlihat kikuk malu.

"Bagaimana aku bisa tidur, mendengar suara di samping kamarku sangat berisik seperti itu." Wajah Jelita memerah saat mengatakannya.

"Aku yakin Lynx lupa mengaktifkan formasi kedap suara sehingga mereka bersuara tanpa kontrol seperti itu. Ruangan yang ditempatinya memang memiliki peredam suara alami, tetapi jika mereka sekeras itu bersuara, tidak akan bisa menghalangi suara mereka." Kael menjelaskan dengan nada datar, berusaha tidak terpengaruh. Sebagai seorang pria, tentu nafsu mereka juga akan bangkit jika mendengar suara mendesah seperti yang Leena lakukan.

Narendra menganggukkan kepala membenarkan perkiraan Kael, lalu dia teringat sesuatu. "Kael, kira-kira bagaimana dengan nasib Lala ya?" tanya Narendra dengan geli.

Untuk melindungi Lala dari Kanaya dan komplotannya, setiap malam Lynx melindunginya dengan membuat formasi di kamar sebelah tempat Lala tinggal, sehingga tidak ada yang bisa masuk ataupun keluar.

Jelita yang mendengar pertanyaan Narendra menjadi memerah wajahnya. Dia tidak dapat membayangkan tersiksanya Lala akibat kelalaian Lynx. Namun di balik itu, terdapat kesedihan yang dia rasakan karena teringat selama tiga tahun, Jelita berusaha membuat Lynx tertarik namun tidak berhasil.

Di dalam kamar, seperti yang diperkirakan Narendra dan yang lainnya, Lala menahan kemarahan. Dia berusaha mengendalikan dirinya dan menutup telinganya, namun tidak berhasil. Suara erangan kenikmatan Leena dan Lynx sangat mengganggu pikirannya. Dia bahkan sempat mencoba untuk mengintip mereka, tetapi formasi yang dibuat Lynx membuatnya tidak bisa keluar.

Lala hanya bisa diam pasrah dan membayangkan adegan yang sedang mereka lakukan. Bagaimanapun, Lala belum pernah melakukannya dan ingin mencobanya bersama Lynx.

"Kenapa sampai berjam-jam mereka tidak juga selesai. Aku yakin beberapa hari ini mereka selalu melakukannya," kata Lala dengan kesal sambil mengelus-elus tubuhnya sendiri.

"Arkha, apa kamu yakin baik-baik saja?" tanya Jelita mengalihkan pembicaraan mereka.

Arkha membusungkan dadanya sambil memperlihatkan kekuatan otot tangannya. "Aku baik-baik saja. Kamu lihat, tubuhku ini akan rusak jika aku terlalu banyak tidur."

Semua hanya tertawa mendengar kata-kata Arkha. Jelita dan yang lainnya tahu, di balik suara tawa Arkha, dia berusaha keras mencari wanita yang sudah menjebaknya dan melukai Lala. Arkha merasa sangat bersalah meskipun itu bukanlah kemauan dia.

"Kalian lanjutkan tugas kalian, aku ingin mencari angin segar terlebih dahulu," kata Jelita sambil melangkah menjauh dari rekan-rekannya. Dia tidak ingin kembali ke kamar dan mendengar suara Lynx dan Leena yang sedang memadu kasih.

"Jelita tunggu!" teriak Kael sambil berlari mengejar, setelah membahas pembagian tugas mereka dengan cepat.

"Aku akan menemanimu." Kael merasa khawatir membiarkan Jelita berjalan sendirian. Mereka harus waspada karena Kanaya dapat menyerang kapan pun.

Jelita dan Kael melangkah, menikmati suasana malam di Kota Zhurong dalam diam. Tidak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan.

Sementara itu, tidak jauh dari mereka, Kanaya yang selalu mencari kesempatan akhirnya menemukan kesempatan bagus.

"Akhirnya kesempatan tiba. Rasakan pembalasanku, Kael."

Kanaya bergerak memutar untuk mencegat Kael dan Jelita dari depan. Selama beberapa hari menyelidiki Lala, dia sudah mendapatkan informasi yang cukup mengenai kekuatan mereka semua. Hanya Lynx, Leena, dan Narendra yang perlu dia khawatirkan.

Ketika Kael dan Jelita sudah berada di jarak jangkauannya, Kanaya memperlihatkan dirinya.

Kael dan Jelita merasa kaget. Kael dengan cepat berteriak memperingatkan Jelita, "Cepat lari! Cari Lynx!"

Kael berniat mengeluarkan kekuatannya, namun terlambat, dadanya telah tembus terkena tembakan laser sehingga dia terjatuh. Tubuhnya langsung kehilangan kekuatan dan tidak sadarkan diri.

Jelita yang menjauh, berbalik arah dan menuju Kael untuk menyelamatkannya. "Kael... Tidak..." teriaknya sambil menangis.

Kanaya tidak ingin membuang waktu, dengan cepat dia menembakkan senjata bius ke Jelita yang tidak siap, sehingga Jelita langsung pingsan dan ditangkapnya.

"Aku akan memberikan hadiah untuk kalian semua." Kanaya meletakkan bom waktu di tubuh Kael yang sudah tergeletak di tanah dengan luka terbakar akibat tembakan senjata laser.

"Dengan ini, dendamku terbalaskan. Bom ini akan menghancurkan tubuhmu, dan juga temanmu jika mereka datang cepat." Kanaya segera pergi. Dia hanya membutuhkan Jelita untuk mengancam Lala. Dia sudah menyiapkan rencananya dengan matang.

DUAR!!!

Suara ledakan keras mengguncang Kota Zhurong saat subuh menjelang. Arkha dan Narendra yang mendengar langsung merasa tidak enak mendengar ledakan besar berasal dari arah Jelita dan Kael. Mereka segera berlari untuk memastikan.

Lynx dan Leena yang mendengar segera berhenti berhubungan intim dan mengenakan pakaian mereka. Lynx menggunakan kekuatannya untuk memeriksa keadaan rekan-rekannya, namun dia tidak merasakan keberadaan Kael dan Jelita.

Lynx berlari keluar, namun sebelum itu dia menghilangkan formasi di tempat Lala dan mendorong pintunya untuk membangunkan Lala. Tanpa diduga, pintunya tidak terkunci karena Lala sempat ingin keluar untuk menghindari suara berisik Lynx dan Leena.

Lynx kaget melihat Lala sedang tiduran di lantai tanpa menggunakan busana sehelai pun sambil mengelus-elus tubuhnya. Lala yang sedang menikmati tidak menyadari suara ledakan ataupun Lynx yang sedang berdiri memandangnya.

"Lynx kenapa berhenti? Kita harus segera memeriksanya," kata Leena saat melihat Lynx berdiri diam di depan pintu kamar Lala.

Leena merasa kaget saat melihat apa yang sedang dilakukan Lala dan wajahnya memerah. Dia berdiri mematung seperti Lynx.

Lala yang merasakan kehadiran seseorang segera memandang ke arah pintu dan merasa kaget.

"Lala, Leena, aku duluan..." kata Lynx sambil berlari cepat, menghindari amukan dari Leena.

***

Beberapa saat kemudian, Leena dan Lala tiba di lokasi ledakan. Di tempat itu sudah berdiri Lynx, Arkha, dan Narendra yang sudah memeriksa keadaan di sekitar.

"Gimana Lynx? Apa yang terjadi?" tanya Leena dengan nada penasaran.

"Mana Kael dan Jelita?" Lala ikut bertanya setelah melihat mereka berdua tidak ada di tempat kejadian.

Narendra yang berada lebih dahulu di tempat kejadian menjawab pertanyaan Lala dengan nada cemas, "Kami sudah mencari Kael dan Jelita tetapi tidak menemukan mereka. Selain itu kami mencemaskan ledakan ini. Dengan radius ledakan belasan meter seperti ini, dan tidak terasa ada energi spiritual, Lynx mengatakan kemungkinan ini ulah Kanaya."

"Kanaya..." Lala berkata dengan nada geram sambil mengepalkan tangannya.

Lynx dan yang lainnya mulai memeriksa keadaan. Para penduduk semakin banyak yang datang untuk melihat kejadian. Sementara Karim tidak terlihat karena sedang menjalankan misi bersama Zhen Huan di kota lainnya beberapa hari yang lalu.

Saat Lala berdiri agak jauh dari rekannya yang lain, tiba-tiba saja seorang anak kecil mendekati Lala dan memberikan secarik kertas ke genggaman tangan Lala.

Lala merasa terkejut dan segera membacanya,"JELITA BERSAMAKU. IKUTILAH ANAK INI TANPA SEPENGETAHUAN YANG LAIN, ATAU AKU AKAN MEMBUNUH WANITA INI."

Lala yang membaca surat tersebut langsung merasa cemas. Tanpa pikir panjang, Lala mengikuti anak tersebut tanpa sepengetahuan Lynx dan yang lainnya.